Perangkat Desa Sumodikaran

Pemdes Sumodikaran - Dari Desa Kabari Dunia dalam Sebuah Berita

OPEN GOVERNMENT PARTNERSHIP

Pemdes Sumodikaran - Dari Desa Kabari Dunia dalam Sebuah Berita

Ikut Serta menyukseskan Gerakan Desa Sehat dan Cerdas

Pemdes Sumodikaran - Dari Desa Kabari Dunia dalam Sebuah Berita

Embung Desa Sumodikaran sebagai Sumber Daya yang perlu dikelola

Pemdes Sumodikaran - Dari Desa Kabari Dunia dalam Sebuah Berita

Kuliner khas Jonegoro Warung Tempuran dan Warung Rumah Kampoeng

Pemdes Sumodikaran - Dari Desa Kabari Dunia dalam Sebuah Berita

Aktivitas Ibu-ibu dan Remaja Putri Desa Sumodikaran, Sukseskan Program Desa Sehat dan Cerdas

Pemdes Sumodikaran - Dari Desa Kabari Dunia dalam Sebuah Berita

Suasana Upacara dan Jalan Sehat HUT Kemerdekaan RI ke-72

Pemdes Sumodikaran - Dari Desa Kabari Dunia dalam Sebuah Berita

Pelantikan Ketua RT dan RW Desa Sumodikaran

Pemdes Sumodikaran - Dari Desa Kabari Dunia dalam Sebuah Berita

Rabu, 01 April 2015

PROGRAM RASKIN RINGANKAN BEBAN HIDUP WARGA MISKIN DESA SUMODIKARAN



KIM Patih Somo- Walaupun sempat ada wacana Program Beras Keluarga Miskin (raskin) untuk tahun 2015 akan dihapus (baca http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/01/01/nhhdju-petani-minta-raskin-tak-dihapuskan), namun  kenyataannya Bulog Bojonegoro masih menyalurkan beras untuk keluarga miskin di desa Sumodikaran. Hari ini, Rabu, 1 April 2015 telah datang 1 unit truk dari Bulog Bojonegoro di Balai Desa Sumodikaran Kec. Dander Kab. Bojonegoro yang mengangkut 4350 kg untuk 290 Kepala Keluarga.

Sebagaimana diketahui bahwa Raskin merupakan subsidi pangan dalam bentuk beras yang diperuntukkan bagi rumah tangga  berpenghasilan rendah sebagai upaya dari Pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan perlindungan sosial pada rumah tangga sasaran.

Menurut Kepala Desa Sumodikaran, Hj. Khotimah  Keberhasilan Program Raskin diukur berdasarkan tingkat pencapaian indikator 6T, yaitu: tepat sasaran, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu, tepat kualitas, dan tepat administrasi. Program ini bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga Sasaran (RTS) melalui pemenuhan sebagian kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras dan mencegah penurunan konsumsi energi dan protein. Selain itu raskin bertujuan untuk meningkatkan/membuka akses pangan keluarga melalui penjualan beras kepada keluarga penerima manfaat dengan jumlah yang telah ditentukan.
“Program beras untuk keluarga miskin ini sangat membantu kami warga yang kurang mampu”, kata Monah (43 tahun) warga RT. 01/RW. 01 Desa Sumodikaran, salah satu penerima raskin. Janda yang menghidupi 3 orang anak ini merasa terbantu dengan adanya program ini. Dia mengaku sudah beberapa tahun ini menerima beras dari Pemerintah.

Kaur Kesra Desa Sumodikaran, Munajat mengatakan bahwa  Pemerintah Desa sudah memilih berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan siapa-siapa yang layak menerima bantuan beras untuk keluarga miskin ini supaya tidak salah sasaran,  agar indikator keberhasilan program ini tercapai. (say)

Kamis, 26 Maret 2015

DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN SIAP GELONTORKAN BIBIT DOMBA

KIM Patih Somo- Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro, siang tadi (26/03/2015) menyelenggarakan Penyuluhan Pengelolaan bibit ternak di Balai Desa Sumodikaran Kec. Dander Kab. Bojonegoro Jawa Timur yang dihadiri oleh Kepala Desa dan semua jajaran Aparatur Desa.

Kelompok Tani Ternak Mulyo Desa Sumodikaran Kec. Dander Kab. Bojonegoro pada tahun 2015 ini akan menerima bantuan bibit ternak Domba dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bojonegoro. Turunnnya bantuan ini diawali dari pengusulan Kelompok Tani Ternak Mulyo pada tahun 2014 yang lalu. Pada tahun ini pengusulan tersebut  akan segera terealisasi.

Sinyal turunnnya bantuan ini dimulai hari ini, yaitu diawali dengan diselenggarakannya Penyuluhan Pengelolaan Bibit Ternak yang didistribusikan kepada masyarakat tahun 2015, yang dilaksanakan di Balai Desa Sumodikaran. Penyuluhan tersebut diikuti oleh anggota Kelompok Tani Ternak Mulyo, Aparatur Desa dan sebagian masyarakat desa yang berjumlah 40 orang.

Antusias anggota Kelompok  Tani Ternak dan masyarakat  cukup tinggi untuk mengikuti penyuluhan tersebut, terbukti tingkat kehadiran undangan mencapai 95%. Sukarji, salah satu undangan yang hadir mengatakan bahwa keingintahuan dan kejelasan bagaimana  cara-cara beternak yang benar sangat dibutuhkan masyarakat, mengingat saat ini banyak masyarakat Sumodikaran yang memiliki ternak. Hal ini juga diamini oleh Kholiq, Ketua Kelompok Tani Ternak Mulyo Desa Sumodikaran, dia menandaskan bahwa modal dasar yang wajib diketahui oleh warga sebelum beternak adalah tehnik-teknik beternak yang benar. Bagai gayung bersambut, Ketua Tim Pelaksana, Kasnadi, S.Pt. juga menjelaskan bahwa sebelum Kelompok Tani menerima bantuan ternak, langkah utama yang diperlukan adalah petani mengetahui teknik-teknik beternak yang benar.
Kelompok Tani Ternak Mulyo yang dikomandani oleh Kholiq ini memiliki anggota sebanyak 10 orang. Berdirinya Kelompok Tani ini berawal dari  keinginan Kholiq untuk beternak Domba. Pada tahun 2013 atas dukungan dan motivasi dari apartur desa keinginan untuk mendirikan Kelompok Tani Ternak ini dapat terealisasi. Namun diawal berdirinya kelompok ini sudah terbentur dengan modal sehingga dalam pelaksanaan kegiatannya tidak dapat berjalan dengan baik. Atas saran dari pamannya yang juga anggota kelompok Tani Ternak di Kapas menyarankan untuk membuat proposal bantuan bibit ternak domba. Akhirnya pada tahun 2014 proposal  diajukan ke Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Bojonegoro dan dapat terelalisasi pada tahun 2015 ini.

Rencananya bantuan yang digelontorkan kepada Kelompok Tani Ternak Mulyo ini berjumlah 20 ekor bibit Domba betina siap kawin dan 5 ekor domba untuk dikelola dalam kandang bersama dengan harapan dalam waktu 2 tahun kedepan dapat berkembang dengan baik dan sesuai harapan Dinas Peternakan dan Masyarakat.

Selasa, 24 Maret 2015

SONGSONG PROGRAM CAMAT DANDER WARGA SUMODIKARAN MULAI MELIRIK BUDIDAYA LELE


KIM Patih Somo- Seiring dengan program Camat Dander menjadikan Desa Sumodikaran dan Desa Ngumpakdalem sebagai destinasi kuliner masakan berbahan dasar ikan air tawar, warga Desa Sumodikaran mulai menekuni budidaya ikan Lele dan Nila. Berdasarkan data dari Pemerintah  Desa Sumodikaran, saat ini sudah puluhan Kepala keluarga yang membudidayakan Lele. Walaupun masih sebatas sebagai sarana menyalurkan hobby saja namun hasil yang diperoleh tidak terlalu mengecewakan.

Camat Dander memprogramkan Desa Sumodikaran dan Desa Ngumpakdalem sebagai alternatif tujuan wisata kuliner. Embrio program ini sudah ada, yakni berdirinya 3 buah warung yang tiap harinya cukup ramai dikunjungi pelanggannya. 3 warung itu adalah Warung Tempuran, Warung Makan Rumah Kampung dan Mega Kafe. “Kami memberi alternatif menu masakan kepada 3 warung tersebut yakni menu masakan berbahan dasar ikan lele, selain menu masakan unggulan masing-masing Warung tesebut”, ujar Fatchur Rochman, S.Sos, Msi, Camat Dander saat ditemui KIM Patih Somo, (23/03/2015) di Kantor Kecamatan.

Sejalan dengan pernyataan Camat Dander, menurut Nurul Iksan, SE, Program budidaya Lele ini sudah dimasukkan pada Musrenbangdes bulan November 2014 yang lalu.  “Pada Musrenbangdes tahun 2016, telah diprogramkan budidaya Lele dan pelatihan-pelatihan masakan olahannya, misalnya Pentol Lele, Abon Lele dan Kerupuk Lele”, kata Kaur Pembangunan Desa Sumodikaran ini menandaskan. Rencananya selain pengolahan produk lele, juga akan ada pelatihan meramu pakannya, sehingga warga yang berminat budidayak lele tidak kesulitan menghadapi masalah pakannya.

Salah satu pembudidaya Lele yang cukup telaten menggeluti bidang ini adalah Maliki, warga RT. 03 RW. 02 Dukuh Tempuran Desa Sumodikaran. Sejak tahun 2013 yang lalu dia menekuni hobby budidaya Lele ini. Dengan bermodalkan tambak dengan ukuran 5 m x 10 m ini, dia menebarkan 13.000 benih lele di kolamnya. “Yach…. Untuk refreshing mas… menyalurkan hobby, keuntungannya lumayan juga”. Ujarnya.
Selain Maliki, ternyata lebih dari 15 Kepala keluarga di desa ini juga memiliki pekerjaan sampingan yakni budidaya Lele ini.

Kepala Desa Sumodikaran, Hj. Khotimah berharap dengan adanya program dari kecamatan ini pendapatan masyarakat akan meningkat yang pada ujungnya kesejahteraannya pun akan meningkat.

Jumat, 20 Maret 2015

BALAI DESA DIGUSUR PEMERINTAH DESA MALAH BERSYUKUR

KIM Patih Somo- Kepala Desa Sumodikaran yang baru ini memang patut diacungi jempol, betapa tidak, dalam masa satu tahun kepemimpinannya, Hj. Khotimah bersama-sama dengan jajaran Pemerintahannya telah menyelesaikan dua PR besar yang selama ini terbengkalai dari masa kepemimpinan Kepala Desa sebelumnya. Setelah pemindahan Jalur Jalan baru di timur Kasun I  RT 01 RW 01 yang baru saja selesai masa pembangunannya, Beliau langsung tancap gas untuk mengeksekusi PR keduanya yaitu penyelesaian sengketa tanah yang ditempati Balai Desa.
                                                                                                                          
Balai Desa Sumodikaran Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro yang selama ini ditempati oleh Pemerintah Desa, dulu dibangun sejak masa kepemimpinan Kepala Desa alm. Bapak H. Wajiran pada tahun 1984. Balai Desa ini berdiri diatas tanah milik Alm. H. Tarmadi. Pendirian Balai Desa ini bermula dari kesepakatan antara Pemerintah Desa dan H. Tarmadi yang dituangkan dalam rembug desa pada tahun itu. Disepakati bahwa tanah tersebut awalnya akan dibeli desa, tetapi karena membutuhkan dana yang besar, maka sementara dipakai untuk balai desa sedangkan H. Tarmadi diberikan tukar tanah kas desa untuk dikelola. Waktu bergulir begitu cepat, ketika masa kepemimpinan H. Wajiran berakhir dan berganti Kepala Desa H. Hadi Suwartono yang masih saudara H. Tarmadi dan anak dari H. Wajiran, mungkin karena hubungan kekeluargaan yang begitu kental sehingga permasalahan panah yang ditempati Balai Desa berlalu begitu saja tanpa penyelesaian.
Balai Desa yang sekarang ditempati
Pemdes Sumodikaran
Hingga kepemimpinan kepala desa berganti Ali Mahfudh, S.Pd. Pihak keluarga H. Tarmadi mulai menanyakan kelanjutan penyelesaian tanah yang ditempati balai desa. Pembahasan selalu deadlock dan mengambang begiti saja sampai akhir masa kepemimpinan Ali Mahfudh, S. Pd. selama dua periode.

Tampuk kepemimpinan Kepala Desa Sumodikaran berganti kepada Hj. Khotimah yang mulai menjabat sejak 30 April 2014 lalu. Pembahasan permasalahan tanah yang ditempati Balai Desa menghangat kembali, Hal tersebut akhirnya direspon cepat oleh Kepala Desa. Dari dua pertemuan yang digelar oleh Pemerintah Desa dengan Pihak Keluarga H. Tarmadi, puncaknya pada pertemuan kedua yang dilaksanakan di Balai Desa Sumodikaran pada tanggal 14 November 2014 lalu menjadi titik balik dari keberadaan Balai Desa yang selama ini ditempati oleh Pemerintah Desa dalam menjalankan roda pemerintahannya. Pertemuan tersebut mendapatkan hasil kesepakatan yaitu Balai Desa Sumodikaran akan pindah tempat di lokasi Tanah Kas Desa sebelah SDN Sumodikaran II. Terkait kepindahan tersebut Pemerintah Desa Sumodikaran minta tenggang waktu 3 tahun. Saat ditemui KIM Patih Somo (19/03), Kasun Sumodikaran, Ali Muji merasa senang karena masalah ini sudah ada solusinya. “Akhirnya kami sangat puas dan bersyukur dengan hasil kesepakatan ini, kami lebih senang jika pindah saja daripada harus membeli tanah ini, selain kemampuan keuangan desa yang sangat terbatas, Kami juga harus rehab Balai Desa. Dengan pindah di tanah Kas Desa sudah aman di sisi tempat dan kami bisa merencanakan pembangunan Balai Desa baru yang lebih bagus”. ujarnya membenarkan.

Dari hasil kesepakatan tersebut Pemerintah Desa Sumodikaran langsung merespon dengan membuat rencana pembangunan Balai Desa baru. Saat ini sudah memasuki tahap desain akhir dan di tahun 2015 ini juga rencananya Balai Desa Sumodikaran yang baru akan segera dibangun, menyusul tahun berikutnya pembangunan Kantor Desa. “Kami mohon do’a restu kepada semua Warga Sumodikaran dan Pembaca, semoga pembangunan Balai Desa baru ini lancar dan dimudahkan oleh Allah SWT, sehingga dalam kurun waktu 3 tahun, Balai Desa Sumodikaran sudah berdiri kokoh sebagaimana harapan kita semua”. tandas Kepala Desa Sumodikaran. (Exsan)

Kamis, 19 Maret 2015

BUTIRAN TELUR PUYUH HASILKAN LEMBARAN RUPIAH

KIM Patih Somo- Dukuh Tempuran memang potensial untuk digali sumber dayanya. Sesuai namanya, TEMPURAN, warganya pun siap tempur memperjuangkan agar hidup layak. Salah satunya usaha peternakan Burung Puyuh. Tingginya permintaan telur puyuh di Bojonegoro menjadi peluang usaha tersendiri. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Suwito (44 tahun) warga RT. 02 RW. 02 Dukuh Tempuran, Desa Sumodikaran Kec. Dander Kab. Bojonegoro. Berkat usahanya ini dia bisa membeli tanah, membangun rumah dan mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.

Suwito memang ulet dalam bekerja. Betapa tidak, saat ditemui oleh KIM Patih Somo (18/03) Ia mengaku menekuni peternakan puyuh ini sejak tahun 1999  berawal dari sebuah kecelakaan kendaraan yang disopirinya. Sebelumnya dia memang sopir truk sebuah CV di Bojonegoro. Namun musibah datang hingga akhirnya pria ini trauma menjadi sopir dan memilih menekuni bidang usaha lainnya, yakni beternak buruh puyuh. Diawal usahanya pria berkelahiran Tuban ini mencoba memelihara buruh puyuh di desa kelahirannya Soko Tuban hanya 100 ekor, kemudian berkembang menjadi  ribuan ekor. Merasa berhasil beternak puyuh di Soko Tuban, Pria ini mengembangkan usahanya di desa tempat tinggal istrinya yakni di Desa Sumodikaran.

Sampai berita ini ditulis, burung puyuh yang dipelihara oleh Suwito dibantu oleh Nur Diana, istrinya kini mencapai 5000 ekor dengan rincian 2000 ekor petelur dan 3000 ekor lainnya dijual sebagai bibit.  Dari 2000 ekor puyuh petelur ini tiap harinya bisa menghasilkan 18-20 Kg telur dengan harga jual Rp. 25rb/kilogram nya. Sementara pakan yang dibutuhkan perharinya untuk burung siap telur sebanyak 2000 ekor mencapai 1 sak atau sekitar 50 kg dengan harga Rp. 270 ribu/saknya. Dari hitungan matematis, profit bersih yang dikantongi oleh Suwito bisa mencapai Rp. 400 ribu/harinya setelah dikurangi biaya pakan dan biaya perawatan lainnya. Selain memelihara burung siap telur, Suwito juga menjual burung bakalan atau bibit hingga saat ini berjumlah 3000 ekor dengan harga jual Rp. 5500,- per ekornya.
Namun usahanya ini tidak selalu mulus, pada tahun 2011 pernah merugi hingga Rp. 20 juta rupiah gara-gara buruh puyuh peliharaannya terserang virus.  Namun berkat bantuan pinjaman modal dari Dinas Peternakan Kabupaten Bojonegoro sebesar Rp. 60 juta, keterpurukan usahanya ini dapat segera diatasi.(say)

Rabu, 18 Maret 2015

TERJUNI DUNIA KALIGRAFI UKIR BERBEKAL ILMU DARI MTs AL ROSYID

KIM Patih Somo- Sumodikaran memang desa kecil, namun potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusianya perlu diperhitungkan. Salah satunya adalah Abdul manaf (38) warga RT. 08 RW. 01 Desa Sumodikaran Kec. Dander Kab. Bojonegoro Jawa Timur. Berbekal teknik menulis kaligrafi ( Khot ) sewaktu belajar di MTs Al Rosyid Kendal Bojonegoro, pria ini memiliki keterampilan mengukir kaligrafi arab diatas media kayu jati dengan hasil karya yang cukup menakjubkan.

Pekerjaan ini dipilihnya karena ada peluang bisnis dan tidak sembarang orang bisa melakukannya mengingat pekerjaan ini membutuhkan keterampilan dan ketekunan yang tinggi . Saat ditemui KIM Patih Somo (17/03), Pria yang agak gemuk ini mengaku mulai menggeluti bidang mebel dan ukir sejak tahun 1998.  Berawal dari bekerja di Mebel Garuda, Sukorejo Bojonegoro. Setelah merasa cukup mendapatkan ilmu mengukir, maka pada tahun 2005 dia membuka usaha kecilan di rumahnya sendiri. Dengan modal 4 juta, pria ini memulai usahanya membuat Kaligrafi ukir. “Saya sebenarnya sudah lama ingin mengaplikasikan Khot/Kaligrafi Arab ini diatas media kayu, cuman modalnya belum ada”, Ujarnya.

Sejauh ini memang pemasaran belum maksimal. Produk baru dibuat berdasarkan pemesanan saja. Hal ini dikarenakan terbatasnya modal yang dimiliki pengrajinnya. Namun puluhan bahkan ratusan kaligrafi sudah menghiasi rumah warga dan masjid-masjid di Bojonegoro ini. Produk kaligrafi yang dihasilkan dijual dengan harga bervariasi antara 100 ribu – 500 ribu rupiah, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pemahatannya.

Selain kaligrafi ukir, Pria yang memberi nama usahanya dengan sebutan “Syahrina Mebel” ini juga melayani kebutuhan mebelair seperti meja, kursi, lemari, pintu, jendela, dan kusen. Bagi Pembaca yang ingin memesannya bisa menghubungi 082331181388, WA : 08972929688, atau PIN  5290BA47. (say)

Selasa, 17 Maret 2015

GELUTI PROFESI DUKUN LAMPU TOPANG EKONOMI KELUARGA


KIM Patih Somo- Reaksi pertama kali kita mendengar bahwa lampu hemat energi mati bisa dihidupkan kembali adalah takjub dan setengah tidak percaya. Namun ketidakpercayaan ini dijawab oleh Moh. Badrianto (37), warga RT. 02/ RW. 02 Dukuh Tempuran Desa Sumodikaran, pasalnya lelaki yang sehari-hari dipanggil Mas Badri ini sudah tiga tahun ini menggeluti profesi sebagai dukun lampu.

Saat ditemuai Kim Patih somo (16/03), Moh Badrianto mengaku menekuni profesi sebagai dukun lampu ini sejak tahun 2012 bermula saat dia memiliki beberapa lampu hemat energi yang sudah mati, karena merasa sayang kalau benda rusak ini dibuang, maka muncul ide untuk memperbaikinya. Maka pada awal tahun 2012 mulailah dia belajar dari tukang service lampu di Surabaya. Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya dia mencoba membuka usaha service lampu. Bermodalkan uang Rp. 300.000,- dia membeli bahan dan peralatan seadanya.

Mungkin inilah bisnis dengan modal mini hasil maxi atau modal sedikit hasil selangit. Dalam waktu kurang dari satu bulan modal yang dikeluarkan sudah kembali bahkan meraup keuntungan yang cukup tinggi yakni mencapai 1 juta rupiah.

Hal yang paling sulit ditembus bagi pemodal mini untuk bisnis ini adalah pengadaan bahan baku kacanya, karena tidak dijual bebas di toko-toko, maka pembeliannya harus langsung ke  distributornya dan itupun harus partai besar dan cash. Bagi pemodal mini hal yang bisa dilakukan adalah membeli secara eceran dari para pembuka lapak service. 


“Diawal usaha kami, pemasaran hanya di kios-kios di sekitar Kecamatan Dander, lalu dengan usaha keras bisa menembus pasar Ngasem, pasar Ngambon, pasar Kalitidu bahkan sampai ke pasar Padangan”, ujar bapak beranak 3 ini.  Sampai saat ini anak buah untuk memasarkan barangnya sudah ada 6 orang. Seiring dengan tingginya permintaan lampu rekondisi ini, Badri terus menambah modalnya. Penghasilannya sebagai dukun lampu ini bisa mencapai 2,5 juta/bulan sehingga mampu menopang ekonomi keluarganya.

Senin, 16 Maret 2015

ANJLOKNYA HARGA GABAH BIKIN PETANI DI SUMODIKARAN RESAH


KIM Patih Somo- Sampai hari ini (16/03) beberapa pemilik sawah di Desa Sumodikaran Kec. Dander Kab. Bojonegoro Jawa Timur masih memanen padinya. Musim panen tahun ini  memang tak membuat petani di desa ini bergembira. Pasalnya harga gabah yang menjadi tumpuan harapan  pendapatan bagi ratusan keluarga petani di desa tersebut hargannya kini anjlok hingga Rp 3.600 per kilogram.

Pada awal panen dua pekan lalu harga gabah masih dikisaran Rp 4.500,- perkilogram. Para petani menuding ada tengkulak yang mempermainkan harga, namun mereka tak punya pilihan, bagaimanapun gabah itu harus dijual untuk modal masuk masa tanam kedua.

Jami’in, petani di RT.01 RW. 01 di desa  ini misalnya, semula ia gembira karena awal musim panen dua pekan lalu harga gabah dibeli para pedagang di kisaran harga Rp 4.500,- per kilogram. Namun harga tersebut hanya bertahan beberapa hari sebelum akhirnya tergerus.

“Dua pekan lalu kan harganya Rp 4.500 per kilogram, tapi hanya harga pembuka. Rupanya hanya bertahan beberapa hari tiba-tiba harganya melorot meski kondisi dan kualitas gabah tak berbeda dengan gabah yang dipanen dua pekan lalu,” ujar jami’in. Padahal data di pasar setempat menunjukkan harga beras panenan baru berkisar Rp 8.400 – Rp 8.500/kilogram. Tapi harga beras kualitas super tetap stabil berkisar Rp 9.800-Rp 10.400/kilogram, begitu pula harga beras jatah untuk warga miskin (raskin) juga stabil berkisar Rp 6.500-Rp 6.600/kilogram, namun yang disayangkan petani mengapa harga gabah terus turun? Pertanyaan inilah yang mungkin perlu dijawab oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro.

Minggu, 15 Maret 2015

BADAN SEHAT, JIWA MANTAP, PROGRAM DESA SEHAT DAN CERDAS-PUN DAPAT


KIM Patih Somo- Minggu pagi (15/03) Balai Desa Sumodikaran dibanjiri ibu-ibu dan remaja putri. Ada rutinitas baru bagi Ibu-ibu dan remaja putri di desa ini, mulai bulan Januari 2015 kemarin setiap minggu pagi, mereka melakukan senam dan tak kalah juga para remaja putra untuk melakukan olahraga bulu tangkis.

Rutinitas positif ini perlu diapresiasi, betapa tidak atas prakarsa dari Ibu Kepala Desa Sumodikaran, Hj. Khotimah,  ibu-ibu dan remaja putri desa Sumodikaran mengisi waktu sehabis masak dengan senam kebugaran.

Aktivitas rutin ini mulai dilaksanakan awal bulan Januari 2015 yang lalu bertempat di Balai Desa Sumodikaran Kec. Dander Kab. Bojonegoro. Dengan difasilitasi dan dipandu oleh instruktur senam yang bernama Teresia (35 tahun), warga desa Balen Kec. Balen peserta senam mencapai 50 orang. “Saya sangat senang dan sangat terhibur karena selain untuk mengisi akhir pekan juga senam ini bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh”, ujar Rusmiasih warga RT. 05 RW. 01 Desa Sumodikaran.

Menurut Kepala Desa Sumodikaran, Hj. Khotimah bahwa seiring dengan program Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, yakni Program Desa Sehat dan Cerdas, tentunya kebiasaan ini perlu dilestarikan, sehingga warga desa Sumodikaran terutama ibu-ibu dan remaja putri memiliki badan yang sehat, jiwa yang mantap dan program Pemerintah pun dapat terlaksana dengan baik di desa kita yang tercinta ini.

Selain ibu-ibu dan remaja putri tidak ketinggalan di halaman balai desa juga ada sekelompok remaja putra sedang berolahraga bulu tangkis. “Ini semua perlu dimotivasi dan diapresiasi sehingga warga benar-benar sadar bahwa menjaga kesehatan merupakan sebuah kebutuhan”, tandas kades Sumodikaran.

Sabtu, 14 Maret 2015

FASILITASI HARAPAN WARGA PEMDES SUMODIKARAN BANGUNKAN JALAN BARU



KIM Patih Somo- Atas prakarsa Ibu Kepala Desa Sumodikaran Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro Propinsi Jawa Timur, akhirnya Pembangunan Jalan Baru timur Kasun RT 01 RW 01 yang menjadi harapan warga tersebut dapat terwujud.

Jalur yang dulunya adalah jalan setapak menuju sawah yang terputus oleh sungai apur. Akhirnya pertama kali dibangun pada masa kepemimpinan Kepala Desa H. Hadi Suwartono pada tahun 1990an untuk membuka akses jalur terdekat menuju jalan raya dan sebagai penghubung ke perumahan Redriying. Jalan yang sempat mengalami perkerasan dan perbaikan tersebut akhirnya mengalami kendala karena tanah tersebut masih merupakan hak milik perorangan, sehingga hampir 5 tahun terakhir tidak tersentuh pembangunan.

M. Dahlan yang beralamat di RT 01 RW 01 Desa Sumodikaran sebagai pewaris tanah tersebut akhirnya melunak setelah di mediasi oleh Pemerintah Desa, dengan kepemimpinan Kepala Desa yang baru Ibu Hj. Khotimah yang baru menjabat per 30 April 2014, benang kusut atas permasalahan tanah tersebut akhirnya teratasi. Hasil kesepakatan yang dituangkan dalam Berita Acara Desa pada tanggal 20 Mei 2014 lalu yang diantaranya adalah “memberikan hibah kepada Desa separo dari lebar kebutuhan untuk di jadikan jalan umum”. Hal tersebut diamini pula oleh pemilik tanah yang bersebelahan dengan tanah tersebut, beliau adalah Ibu Hj. Suwartini yang merelakan untuk kebutuhan separo jalan tersebut.

Hasil kesepakatan tersebut di tindaklanjuti oleh Pemerintah Desa dengan melakukan pengukuran, Perencanaan, model design dan menghitung kebutuhan anggaran untuk menggeser dari jalan yang sudah ada. Hasil investigasi di lapangan diambil keputusan untuk terlebih dulu dibangun plengsengan/tanggul tembok penahan tanah. Jalan sepanjang 60 meter dengan lebar badan jalan 3 meter dan tepi kiri kanan masing-masing 1 meter dengan tinggi urugan 140 cm tersebut sampai dengan perkerasan jalan di perkirakan menelan dana Rp. 58.000.000,-.

Akhirnya setelah diperoleh anggaran dari hasil lelang tanah kas desa pelaksanaan pembangunan jalan baru tersebut dilaksanakan bersama-sama dengan masyarakat sekitar. Tepatnya bulan Desember 2014 kemarin telah selesai pembangunan awal yaitu pelebaran jembatan, pemasangan tembok penahan, dan pengurukan. Setelah itu di tunggu masa jeda 3 bulan agar tanah urugan menjadi padat. Di awal bulan Maret 2015 pembangunan jalan dilanjutkan dengan menataan batu belah, pengurukan peddle, pembuatan jalur jalan dan pengerasan pasir kali. Setelah selesainya pembangunan jalan baru tersebut kini jalan sudah bisa dilalui kendaraan dengan lancar. Namun demikian tetap masih ditunggu ulur tangan pemerintah baik pusat maupun daerah agar dapatnya jalan tersebut dapat perkerasan jalan/dipaving

Kontak Kami

Pemerintah Desa Sumodikaran
Sekretariat : Balai Desa Sumodikaran Kec. Dander Kab. Bojonegoro
HP : +6282331046465 ( Yasdi, SE, MM )
Email : desasumodikaran@gmail.com